Sukabumi - Gardatipikornews.com
Selama musim kemarau disusul dengan kondisi pandemi Covid-19 sejak dua tahun lalu. para pengrajin genteng dan bata merah di Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi menghadapi musim paceklik produksi dan merosot permintaan konsumen. Kondisi dua faktor tersebut, mereka mengaku kesulitan mendapatkan bahan baku berupa tanah liat dan air sebagai campuran utama dalam pembuatan genteng dan bata merah ditengah kondisi Corona. "Sejak dua tahun terakhir pengrajin bata dan genting merah mengalami penurunan dan banyak yang harus gulung tikar. Kondisi kemarau pasti kendala sumber air mengering, tanah yang dijadikan bahan baku bata merah menjadi keras. Akibatnya tidak bisa mengolah bahan baku karena tidak ada air," kata Usman, pengrajin bata merah di Kampung Karanggantung, Desa/Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, saat disambangi di Lio (tempat pembakaran bata dan genting merah) milikinya, Sabtu (28/8/21) Kesulitan memperoleh bahan baku, ujar Usman, tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan minat konsumen yang menguntungkan bata dan genteng merah semakin menurun, dengan kondisi masyarakat lebih memilih bahan material untuk bangunan rumah lebih modern. "Hasil produksi kerajinan bata dan genteng sangat memuaskan dalam sisi kekokohan kontruksi bangunan. Akan tetapi kami sebagai pengrajin harus putar otak dalam mempertahankan kualitas dan pelanggan," katanya Usman dan rekan-rekannya sesama pengrajin bata merah dan genteng di beberapa desa di Kecamatan Gunungguruh termasuk Desa Cikujang, yang masih bertahan ditengah pandemi Covid-19, sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah. Salah satu bentuk bantuan yang diperlukan pengrajin pada pemasaran. "Saya berharap, pemerintah bisa mempasilitasi dari sisi pemasaran, agar minat masyarakat meningkat atau bantuan penyertaan modal," harapnya. By. Heryanto