Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles
GTN Ragam - GTN Kepolisian & TNI - GTN Daerah - GTN Pemerintahan - GTN Nasional - GTN Headline - GTN Hukum & Kriminal - GTN Berita - Berita - GTN Keagamaan - GTN Olahraga - GTN Pendidikan - GTN Kecelakaan - GTN Politik - GTN Internasional - GTN Ekonomi - GTN Pariwisata - GTN Bencana Alam - GTN Entertainment - GTN Sepak Bola - Jurnal Nasional - GTN Video - GTN Otomotif - Artikel - GTN Kesehatan - GTN Sosial - GTN Nasional - GTN Headline - GTN Hukum - GTN Berita
Weather Widget for Website by cuacalab.id

RAKER PERSIAPAN GERAKAN TANAM 1 JUTA POHON MANGROVE DI PESISIR UTARA BANTEN

Satukan Komunitas, Koperasi, Pegiat Lingkungan, dan Pelaku UMKM untuk Pemulihan Ekosistem Pesisir dan Masa Depan Generasi Mendatang
by Gardatipikornews.com
05 November 2026 - 5 Views

Tanggerang || Gardatipikornews.com -- Komitmen bersama untuk memulihkan dan melindungi ekosistem pesisir utara Provinsi Banten semakin menguat. Hal tersebut tercermin dalam pelaksanaan Rapat Kerja (RAKER) Persiapan Gerakan Tanam 1 Juta Pohon Mangrove yang berlangsung di kawasan Mangrove Pulo Cangkir (MAPUCA), Kabupaten Tangerang. Kamis (5/11/2026)

RAKER ini menjadi momentum strategis untuk menyatukan visi, membangun sinergi, serta merumuskan langkah konkret berbagai elemen masyarakat dalam menyukseskan gerakan penghijauan pesisir yang direncanakan membentang dari kawasan Kosambi, Teluknaga, Kabupaten Tangerang, hingga Merak, Kota Cilegon.

Gerakan ini tidak sekadar menargetkan penanaman satu juta pohon mangrove, tetapi juga membawa misi besar dalam pemulihan ekosistem pesisir, penguatan edukasi lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan inovasi produk turunan mangrove.

Dalam pemaparannya, H. Ma’mun Muzaki menyampaikan bahwa Gerakan Tanam 1 Juta Pohon Mangrove akan dilaksanakan melalui pembagian 12 klaster penanaman yang tersebar di sepanjang wilayah pesisir utara Banten.

Menurutnya, pembentukan klaster merupakan strategi untuk mempermudah koordinasi, mengoptimalkan sumber daya manusia, serta memastikan proses penanaman dan pemeliharaan mangrove dapat berjalan secara terarah dan berkelanjutan.

"Gerakan ini harus dipersiapkan secara matang, terorganisasi, dan melibatkan seluruh elemen yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Dua belas klaster diharapkan menjadi kekuatan bersama dalam mewujudkan target satu juta pohon mangrove," tuturnya.

Ia menegaskan, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh banyaknya bibit yang ditanam, tetapi juga oleh komitmen bersama dalam menjaga kelangsungan hidup tanaman tersebut.

Dukungan terhadap gerakan ini juga datang dari sektor koperasi. Ketua Koperasi Sitama Citra Nusantara Maju, Risma Sitorus, menyampaikan kesiapan pihaknya untuk mengambil bagian dalam kolaborasi lintas organisasi demi menyukseskan program penghijauan pesisir Banten.

Menurutnya, koperasi memiliki peran strategis dalam mendorong gerakan sosial dan ekonomi masyarakat agar dapat berjalan beriringan dengan upaya pelestarian lingkungan.

"Kami siap mendukung dan berkolaborasi agar kegiatan ini dapat terwujud. Harapannya, gerakan ini menjadi investasi lingkungan bagi masa depan dan generasi yang akan datang," ungkap Risma.

Ia berharap gerakan tersebut dapat menjadi contoh nyata bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya komunitas pemerhati lingkungan.

Dukungan konkret juga disampaikan melalui Pataya Ketua Komunitas Lingkungan Hidup Tunas Harapan, Kemiri, Kabupaten Tangerang.

Pihaknya menyatakan kesiapan mendukung kebutuhan pembibitan, mulai dari penyediaan benih dan bibit mangrove, polybag, hingga fasilitas pendukung penyemaian berupa greenhouse. Saat ini, komunitas tersebut telah memiliki sekitar 20.000 bibit mangrove hasil penyemaian yang dipersiapkan di fasilitas pembibitan kawasan pesisir Kemiri. Kesiapan tersebut menjadi modal awal yang penting dalam mendukung kebutuhan bibit untuk pelaksanaan gerakan penanaman secara bertahap.

"Persiapan pembibitan menjadi bagian penting agar gerakan ini tidak berhenti pada seremoni penanaman. Ketersediaan bibit dan kesiapan fasilitas harus terus diperkuat," demikian disampaikan dalam pemaparan dukungan komunitas.

Ade Prihatin dari KSM Kronjo Hijau menegaskan bahwa gerakan penanaman mangrove harus menjadi misi bersama yang memberikan manfaat luas bagi lingkungan sekaligus masyarakat pesisir.

Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak boleh hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, melainkan juga dari tingkat keberhasilan tumbuh, pemeliharaan, serta dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkan.

Ia juga mendorong agar gerakan lingkungan tersebut berjalan seiring dengan penguatan sektor UMKM lokal, khususnya usaha masyarakat pesisir, petani tambak, dan nelayan.

Potensi ekonomi yang dapat dikembangkan antara lain budidaya ikan, udang, hasil perikanan, serta berbagai produk olahan berbasis sumber daya lokal.

"Jangan sampai kita hanya berbicara tentang menanam pohon, tetapi melupakan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Mangrove harus mampu menjadi bagian dari solusi lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir," katanya.

Sementara itu, H. Makdis Adhari biasa akrab di sapa H. Heru dari Mangrove Pulo Cangkir (MAPUCA) yang tergabung dari Lapisan Komunitas (Konsorsium Landscape Mangrove) menyoroti pentingnya pengembangan inovasi dan kreativitas masyarakat dalam mengolah potensi sumber daya mangrove menjadi produk bernilai ekonomi.

Menurutnya, mangrove memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, mulai dari makanan ringan, minuman, olahan tinta, sabun, kerajinan tangan (handicraft), hingga produk kreatif lainnya sesuai jenis mangrove dan ketentuan pengolahan yang berlaku.

Pengembangan produk tersebut diharapkan dapat membuka peluang usaha baru, meningkatkan nilai tambah ekonomi, serta memperluas kesempatan bagi pelaku UMKM di kawasan pesisir.

"Potensi mangrove tidak boleh hanya dilihat dari fungsi ekologisnya. Kita juga harus mampu mengembangkan kreativitas dan inovasi agar masyarakat memperoleh manfaat ekonomi tanpa merusak ekosistemnya," tuturnya.

Selain pengembangan produk UMKM, MAPUCA juga mendorong pembangunan taman edukasi hutan mangrove sebagai pusat pembelajaran, penelitian, wisata edukasi, dan pengenalan ekosistem pesisir kepada generasi muda.

Ia berharap kawasan MAPUCA dapat terus dikembangkan melalui kolaborasi dan kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk BUMN, kementerian terkait, lembaga pendidikan, serta pemangku kepentingan lainnya dengan tetap memperhatikan ketentuan pengelolaan kawasan.

Dari sisi kebijakan lingkungan, Kurtubi, praktisi sekaligus pegiat lingkungan Provinsi Banten, menekankan pentingnya dukungan regulasi daerah untuk memperkuat perlindungan kawasan mangrove.

Ia mendorong pemerintah daerah bersama DPRD dan seluruh pemangku kepentingan agar menginisiasi pembentukan Peraturan Daerah (Perda) tentang Perlindungan Hutan Mangrove di Provinsi Banten.

Menurutnya, gerakan penanaman harus diikuti dengan kebijakan yang memberikan kepastian perlindungan terhadap kawasan mangrove, termasuk pengendalian kerusakan lingkungan, rehabilitasi pesisir, dan pengawasan pemanfaatan kawasan.

"Penanaman mangrove merupakan langkah penting, tetapi perlindungannya juga harus diperkuat melalui regulasi. Kita membutuhkan payung hukum yang jelas agar keberadaan hutan mangrove di Banten dapat dijaga secara berkelanjutan," tegas Kurtubi.

Ia berharap gagasan tersebut dapat menjadi perhatian serius pemerintah daerah sehingga gerakan masyarakat memiliki dukungan kebijakan yang kuat.

Melalui RAKER di MAPUCA, seluruh unsur yang terlibat berkomitmen membangun gerakan kolaboratif yang melibatkan komunitas lingkungan, koperasi, kelompok swadaya masyarakat, pelaku UMKM, nelayan, petani tambak, dunia pendidikan, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Gerakan ini diarahkan pada tiga pilar utama:

1. Pemulihan dan Perlindungan Lingkungan. Memperkuat ekosistem mangrove, mengurangi risiko abrasi, melindungi habitat biota laut, serta menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

2. Edukasi dan Regenerasi Lingkungan. Membangun kesadaran masyarakat, memperluas pendidikan lingkungan, serta menghadirkan taman edukasi mangrove sebagai sarana pembelajaran bagi generasi muda.

3. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat. Mengembangkan inovasi produk turunan mangrove, memperkuat UMKM, meningkatkan potensi usaha perikanan, dan membuka peluang ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.

4. Satu Juta Mangrove, Dua Belas Klaster, Satu Komitmen untuk Banten

RAKER persiapan ini menjadi titik awal penguatan kolaborasi lintas sektor dalam membangun gerakan lingkungan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi memiliki keberlanjutan dan manfaat nyata.

Mangrove bukan sekadar tumbuhan yang hidup di kawasan pantai. Keberadaannya merupakan benteng alami pesisir, pelindung keanekaragaman hayati, penyerap karbon, sekaligus sumber potensi ekonomi bagi masyarakat apabila dikelola secara bijaksana.

Seluruh pihak berharap Gerakan Tanam 1 Juta Pohon Mangrove di pesisir utara Banten dapat menjadi gerakan bersama yang terus tumbuh, meluas, dan memberikan manfaat bagi lingkungan serta kehidupan masyarakat.

Menutup rangkaian pembahasan, semangat kolaborasi yang dibangun dalam RAKER MAPUCA diharapkan menjadi komitmen nyata seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kelestarian alam. 

Satu Juta Mangrove, Dua Belas Klaster Gerakan, Satu Tujuan: Menjaga Pesisir Banten untuk Masa Depan Generasi Mendatang.

SALAM LESTARI!

Publikasi ; Red@ksi.gtn.com 

Sebelumnya
WARGA PANIIS TOLAK PEMBANGUNAN HUNTAP, SEKJEN KJNI DESAK GUBERNUR BANTEN TURUN...
Selanjutnya
Hadapi Potensi Bencana, Polres Sukabumi Perkuat Sinergi Dengan Apel Kesiapsiagaan Bencana Lintas...

Berita Terkait :