Gardatipikornews.com
- Diduga adanya aktifitas pabrik arak ditengah perkebunan kelapa sawit diJalan dokter Soetomo ,air duren Kecamatan Pemali , Kabupaten Bangka yang disinyalir dijadikan pabrik miras jenis arak. Letaknya berada 200 meter dari permukiman warga setempat, senin (10/7/2023) Dari pantauan time awak media dilokasi, Ter dapat bangunan tersebut terkunci. Puluhan tong diduga berisi arak diletakkan dalam keadaan rapi dalam bangunan dari kayu beratap dedaunan tersebut. Lokasi di sekitar gubuk hening dan sepi, karena jauh dari pusat keramaian.
Saat awak media berjumpa dengan Warga disekitar untuk meminta informasi siapa memilik bangunan atau pabrik arak tersebut, sebut saja RM Narasumber tak mau disebutkan nama nya, RM mengatakan pemilik bangunan tersebut milik bos AFU pak. Aktivitas tersebut sudah lama pak kurang lebih hampir 3 atau 4 tahun pak sudah berjalan nya itu saja pak yang saya tahu ,sebagian masyarakat sini pak ada yang tahu ada pula yang tidak tahu, karena lokasinya jauh dari permukiman warga.
Didalam bangunan terdapat berbagai peralatan untuk produksi arak, seperti kabel, selang, tong, pipa, dan lainnya. Aroma alkohol menyengat tercium dari bangunan tersebut.
menyampaikan pabrik miras tersebut setiap hari memproduksi sekitar 480 liter arak, Setiap jeriken berukuran 30 liter dijual dengan harga Rp350.000 hingga Rp370.000.
“Keuntungan mereka rata-rata per bulan Rp20 juta. Dalam sekali proses penyulingan mereka bisa menghasilkan rata-rata 4 jeriken atau sekitar 120 liter. Kalau produksinya sehari semalam bisa dapat 480 liter,” terangnya.
Pabrik miras ini memiliki kapasitas produksi cukup besar. Dalam sekali produksi dengan menggunakan tungku drum besi kapasitasnya mencapai 205 liter.
“Tempat produksi miras ini ternyata tidak memiliki izin,” ujarnya.
Lalu awak media meminta konfirmasi kepada Kapolres Bangka AKBP Taufik Noor Isya, S.I.K. mengatakan "Wa'allaikum Salam... Terimakasih atas informasinya kami kan segera menurunkan tim" pungkas nya
Saat pemberitaan ini ditayangkan awak media akan mengkonfirmasi kepada bos AFU, karena bos AFU susah dihubungi untuk dimintai konfirmasinya.
Terkait dalam pemberitaan ini, awak media akan terus berupaya mengkonfirmasi kepada APH, dan dinas yang terkait.
(Agus.h/Tim)