Gardatipikornews.com
- Pemerintah kabupaten Mimika, Gelar Forum Kemitraan multi - pihak "para-para SDGs Timika No Komen" kehidupan Sejahtera dan Sehat bertempat di balroom hotel Swissbel. Selasa (6/6/2023). Acara tersebut menghadirkan Manager External Coorporate Communication PTFI Kerry Yarangga, Dr. Jeanne Rini Poespoprodjo, Sp.A, MSc, Ph.D, dr. Enny Kenangalem dari RSUD Mimika, perwakilan YPMAK, LSM, Kader Malaria, Unsur Pemerintah Distrik dan Puskesmas.
Forum Kemitraan Multi Pihak ini mengangkat tema "Para-Para SDGs-Timika No Komen Kehidupan Sehat dan Sejahtera" dibuka oleh Yosep Manggasa, Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) mewakili Plt Bupati Mimika Johannes Rettob.
Yosep Manggasa dalam sambutannya, mengatakan bahwa forum multi stakeholders tersebut dalam rangka pencapaian kecepatan tujuan pembangunan berkelanjutan di kabupaten Mimika tahun 2024. Tujuan pembangunan berkelanjutan merupakan komitmen Nasional, yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah kemiskinan, pangan, perbaikan kualitas pertumbuhan ekonomi dan pelayanan dasar. Lanjutnya, kesenjangan antar daerah, kelompok pendapatan dan gender, akses terhadap keadilan, perbaikan kualitas lingkungan hidup, serta pembangunan yang inklusif.
Sejalan dengan hal itu, pemerintah kabupaten Mimika, memiliki komitmen untuk melaksanakan pembangunan guna mencapai tujuan yang tertuang dalam visi dan misi Bupati dan wakil Bupati Mimika, yang menjadi visi pembangunan kabupaten Mimika, dalam perencanaan pembangunan jangka menengah, tahun 2020 - 2024, yaitu terwujudnya Mimika cerdas, aman, damai, dan sejahtera.
Ia juga menyampaikan, pemerintah kabupaten Mimika, telah menyelesaikan penyusunan rencana Aksi daerah, tujuan pembangunan berkelanjutan periode 2020 - 2024. dan telah di tetapkan dengan peraturan bupati. Nomor 43 tahun 2021 tentang rencana aksi tujuan pembangunan berkelanjutan di kabupaten Mimika tahun 2020, 2024.
Salah satu program nasional yang menjadi prioritas adalah masalah kesehatan, khususnya masalah penyakit malaria yang ditargetkan di tahun 2030 mencapai eliminasi malaria secara nasional. Hal tersebut juga menjadi perhatian bagi Pemerintah Kanupaten Mimika dalam hal ini Dinas kesehatan dan PT Freeport Indonesia.
Hal itu disampaikan Daniel Perwira, selaku Manager CHD PTFI, bahwa dalam menangani malaria tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus berjalan beriringan dengan program kesehatan yang lain. Baik dari sisi Posyandu maupun edukasi kepada masyarakat. PTFI dan Pemerintah kabupaten Mimika, telah melaksanakan kesepakatan, bagaimana rencana kerja terkait pencapaian tujuan SDGs.
"PTFI sudah menjalankan program malaria lebih dari 25 tahun, semenjak beroperasi di wilayah dataran rendah. Dalam programnya tidak hanya fokus pada pelayanan pengobatan, tetapi juga pencegahan melalui kegiatan penyemprotan di rumah warga, termasuk melakukan survey penggunaan kelambu anti nyamuk. Program ini bekerjasama dengan Malaria Control dan puskesmas serta memberikan pelayanan pengobatan di klinik maupun Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM)," Kata Daniel
Ia melanjutkan, PT FI juga memberikan promosi dan edukasi kesehatan dengan membuka pojok-pojok malaria di klinik atau rumah sakit.
“Di situ kita berikan edukasi mengenai pola hidup bersih, sehat dan minum obat sampai tuntas,” lanjut Daniel
Daniel menjelaskan, PTFI bersama YPMAK dan Pemerintah kabupaten Mimika, telah membangun Malaria Center yang langsung dibawah kordinasi Plt Bupati Mimika. Lokus pelayanan di wilayah SP9, SP12, Kampung Iwaka, SP3 dan beberapa titik lainnya.
Ia menyayangkan, penggunaan kelambu sangat berperan mencegah digigitan nyamuk pada saat tidur, namun kesadaran masyarakat dalam menggunakan kelambu masih rendah dengan beragam alasan.
“Panas jika menggunakan kelambu atau susah memasangnya. Kita terus memantau seberapa efektif penggunaan kelambu yang dibagikan kepada masyarakat,” paparnya.
Sementara Donny Kabiai, HRD Manager PT Petrosea menjelaskan, Petrosea sebagai perusahaan privatisasi Freeport. Melalui program CSR mendukung pemerintah dalam hal menangani masalah malaria.
Donny menerangkan bahwa perusahaan juga membentuk manajemen malaria, setiap karyawan yang hendak keluar dari area kerja harus mengenakan baju lengan panjang untuk menghindari gigitan nyamuk malaria. Pekerja boleh memakai baju lengan pendek setelah kembali dari areal kerja.
"Melalui program CSRnya, saat ini PT Petrosea sementara melaksanakan aksi nyata intervensi malaria di Kampung Mandiri Jaya. Kegiatan yang dilakukan berupa kerja bakti kebersihan lingkungan dan mengedukasi masyarakat," Jelas Donny
Program yang sudah berjalan sejak April 2023 bekerjasama dengan Puskesmas Pasar Sentral dengan memberikan sosialisasi kesehatan dan melayani pemeriksaan malaria.
(red Kaperwil Papua S.r)