Bogor || Gardatipikornews.com -- Program Anak Tidak Sekolah (ATS) adalah inisiatif pemerintah dan lintas sektor untuk mendata, mencegah, dan mengembalikan anak usia 5–18 tahun yang belum pernah bersekolah atau putus sekolah agar kembali mendapatkan hak pendidikan.
Oleh karenanya, hari ini Kamis, 10 Agustus 2026, Pukul. 09.00 Pemerintah Kecamatan Ciseeng menggelar kegiatan sosialisasi Penanganan Anak Tidak Sekolah.
Dihadiri Camat Ciseeng Subhi SH M.Si, Kasi Penkes Ade Kurniawan S.Km, Penilik SMP Lulus Liliik M.Pd, A. Firdaus (penilik), K3S Anton, Pic ATS Ciseeng Faradina Basmalah, Kepsek SMPN 02 Ciseeng Elia Remita, PKBM Pesona Insan Nusantara: Irawari, Dwi Andika B, Nurdin (SDN Babakan 01), Sain Rusnadi (pengawas SMP), Iis Erwin (pengawas SDN), Usan, Saepul Mubarok (Smp Al Mukhlisin), A Tur Mugsi, Bambang, Jesi Nurahmah, Sutiawati (Smp PGRI 2 Parung), Devi Amalia (Sdn Karihkil 03), Danih, Kusnadi, Yanti (Kepsek Smpn 02 Kuripan), Fitriana Amalia, Mahpud, Lukmanudin Adiiguna, Sa'aji, Saepudin (Smpi Bina Insani Parung) dan.peserta sosialisasi lainnya.

Sosialisasi Penanganan ATS dibuka oleh Kasi Penkes Kec. Ciseeng Ade Kurniawan S.Km yang dengan ramah menyambut dan menyapa peserta sosialisasi tersebut. Disusul dengan sambutan singkat Camat Ciseeng Subhi SH M.Si.
Camat Ciseeng yang gercep mengarahkan mengenai 1300 anak lebih yang tidak sekolah, dan diharapkan bisa melanjutkan kembali.
Untuk itu Camat Subhi SH M.Si mengharapkan bisa bekerjasama dengan.Kepala Desa, Ketua Rt/Rw dan para guru sekolah tentunya. Sedangkan kecanatan hanya bersifat koordinasi. Bilamana sudah diperolleh data dan alamat rumahnya, bisa didatangi dengan melibatkan Rt, Rw dan Kepala Desa.
Penilik A. Firdaus menuturkan kalau PKBM di Ciseeng siap 100 % menampung anak anak tidak sekolah tanpa dipungut biaya. Mulai hari inii tidak ada PKBM yang meminta biaya, semuanya gratis.
Selanjutnya Pic ATS Ciseeng Faradina Basmalah yang juga Kepala Sekolah Karya Bakti menjelaskan dan memaparkan terkait Ats diatas.
PENYEBAB ATS DAN PENTINGNYA INTERVENSI LINTAS SEKTOR
Penyebab ATS dan pentingnya intervensi lintas sektor:
ANAK-ANAK YANG BERADA DI DAERAH 3T
Situasi Kesulitan mengakses Pendidikan setelah menyelesaikan Pendidikan dasar
Intervensi Memerlukan penanganan dan sakdor Pendidikan (Kemdikbudristek dan Kemenag) dan sektor kewilayanan 3T (Kemendes PDTT)
ANAK JALANAN DAN KORBAN PENELANTARAN
Situasi kemiskinan dapat membuat orang tua menelantarkan anaknya karensa tidak punya biaya untuk melakukan pengasuhan
ANAK YANG BEKERJA
Situasi: Kebiasaan yang terjadi karena faktor ekonomi keluarga, yang mendorong anak untuk bekerja dibanding sekolah
Intervensi Memerlukan penangan dari sektor sosial (Kemensos) dan sektor ketenagakerjaan (Kemnaker).
ANAK BERKONFLIK DENGAN HUKUM
Situasi dapat terhambat dalam Pendidikan jika tidak disediakan akses pembelajaran di LPKS/LPAS secara khusus.
ANAK-ANAK PENYANDANG DISABILITAS
Situasi: anak yang ingin bersekolah di SLB sering akhimya tidak bersekolah karena tidak ada SLB yang mudah dijangkau dari rumah.
Intervensi Memerlukan penanganan Sektor Sosial (Kemensos) dan Sektor Pendidikan (Kemdikbudristek & Kemenag)
ANAK DALAM PERKAWINAN ANAK
Situasi: Kemiskinan dan budaya nikah dini dapat menjadi pendorong orang tua untuk menikahkan anaknya di usia sekolah.
LANGKAH PENANGANAN ATS
VERIFIKASI: Pengecekan terhadap informasi awal ATS untuk memastikan bahwa anak yang tercatat memang sesuai dengan kondisi di lapangan
VALIDASI: Mengidentifikasi kondisi, kebutuhan, penyebab dan kemungkinan solusi bagi anak.
Tindak Lanjut dallam hal penanganan ATS
1. PKBM bersedia bekerja sama dalam memudahkan ATS untuk melanjutkan pendidikan non formal.
2. Kecamatan bisa memudahkan pembuatan administrasi kependudukan bagi ATS.
3. Kecamatan dapat memediasi ponpes non dapodik dengan PKBM.
4. Guru dan KS melakukan pendekatan kepada siswa DO agar mau bersekolah lagi.
5. Guru dan KS melakukan intervensi terhadap ATS LTM .
Pewarta ; Agustion kaperwil Jabar